Allah itu Solider

Setiap tahun, umat Katolik diberi kesempatan untuk “bersih-bersih diri” terutama pada masa Adven dan Prapaskah. Pada masa-masa ini, orang Katolik diajak untuk kembali ke fitrahnya sebagai milik Allah yang mau taat dan hidup sesuai dengan perintah-Nya. Bersyukur, karena di akhir tahun 2023 ini kita semua masih diberi kesempatan oleh Allah untuk mendekatkan diri pada-Nya dan memurnikan hati kita.

Di minggu Adven yang pertama ini, kita diajak untuk menyadari betapa besar kasih Allah pada manusia. Allah kita bukanlah Allah yang jahat yang mencari kesalahan-kesalahan kita. Akan tetapi sebaliknya, Allah kita adalah Allah yang begitu baik pada kita dan mencintai kita apa adanya. 

Dalam bacaan Injil minggu ini, Yesus meminta murid-murid-Nya untuk berjaga-jaga. Bagi saya pribadi, perintah Yesus ini menunjukkan kasih setia Yesus pada manusia yang tidak  luput dari kesalahan. Karena kasihNya, Ia meminta manusia untuk berjaga-jaga agar pada saatnya nanti manusia siap untuk bersatu dengan Allah. Permintaan-Nya merupakan tanda bahwa Allah itu solider pada manusia. Allah tidak ingin manusia selalu jatuh dalam kesalahan dan kekotoran dosa. Akan tetapi, Allah ingin manusia merenungi pengalaman-pengalaman hidupnya dan berusaha untuk memurnikan diri terus menerus. Perlu dipahami bahwa Allah-lah yang lebih dahulu berinisiatif untuk mengasihi manusia, dengan demikian manusia dimampukan untuk bisa mengasihi Allah.

Ungkapan “berjaga-jaga”, seharusnya mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk mortal (tidak abadi) yang harus siap berpulang kapan saja. Bagaimana cara manusia untuk siap bertemu dengan Allah? Sederhana, ikuti perintah Yesus. Secara verbal perintah Yesus tampak mudah, tetapi dalam kenyataan perintah Yesus untuk berjaga merupakan perintah yang sangat sulit dilakukan. Berjaga berarti memberikan diri dan hati kita untuk selalu berada dalam rencana-Nya. Berjaga berarti pula pikiran dan kehendak kita selalu terarah pada

Allah yang memberi kehidupan. Namun, manusia sadar bahwa dirinya adalah makhluk rapuh yang seringkali jatuh pada kesalahan yang sama. Di masa Adven ini, hati kita diketuk oleh Allah untuk dibersihkan dari segala kekotoran. Oleh karena itu, kita diajak untuk mau bertobat dan memberikan diri untuk menerima sakramen rekonsiliasi. Dengan demikian, hubungan kita dengan Allah yang sempat rusak karena dosa, dapat dipulihkan dan kita semakin dimampukan untuk bisa mengasihi Allah dan sesama.

Penulis :  Fr. Marcellino Mario Amput

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments