Akulah Pintu dan Gembala Kehidupan

Pada Hari Minggu Paskah IV, Minggu Panggilan, Yesus hadir dan menyapa kita melalui Injil Yoh. 10:1-10. Sapaan kasih itu diungkapkan Yesus lewat percakapan-Nya dengan orang-orang Farisi. Dalam percakapan itu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “pintu” dan “gembala” bagi kawanan domba-Nya. Dengan gambaran itu kita bertanya apa pesan yang ingin Yesus sampaikan kepada kita?

Akulah Pintu Kehidupan
Mendengar kata “pintu’, perhatian dan imajinasi seseorang diarahkan pada arti fungsionalnya. Pertama pintu sebagai pembatas. Berfungsi membatasi kawasan privat/terlindung dengan kawasan terbuka/umum. Kedua pintu mengasosiasikan hubungannya dengan bangunan/rumah. Dengan demikian pintu berperan memberi akses ke kawasan privat/terlindung dan memberi rasa aman bagi pribadi yang berteduh di dalam rumah berpintu.

Gagasan sederhana di atas menggambarkan juga peran Yesus sebagai pintu kehidupan. Itulah yang Yesus pikirkan ketika ia berkata, ”Akulah pin tu.” Sebab melalui dia, dan dalam dia saja, manusia dapat menemukan akses kepada sukacita hidup dan keselamatan dalam Allah.

Gambaran Yesus sebagai pintu tentu berakar pada konteks dan zaman para gembala pada masa itu. Mereka sungguh berperan sebagai pintu bagi kawanan dombanya. Peran itu terwujud saat domba-domba itu berada di perbukitan pada musim panas, terutama saat mereka tidak dapat kembali pada malam hari ke desa. Biasanya mereka akan dikumpulkan ke dalam kandang domba di lereng bukit.

Kandang domba di lereng bukit itu hanyalah ruang terbuka yang dibatasi oleh dinding. Di dalamnya ada celah di mana domba dapat masuk dan keluar. Karena itu pada malam hari para gembala akan berbaring di sebelah luar celah itu. Dengan demikian tidak ada domba yang bisa keluar atau masuk kecuali melewati tubuh sang gembala. Dalam arti yang paling harfiah inilah gembala adalah pintu.

Perumpaan ini pulalah yang dipakai Yesus untuk mengungkapkan diri-Nya sebagai pintu kehidupan. Yesus adalah pintu kepada sukacita dan keselamatan hidup. Maka sebagaimana gembala menuntun kawanan domba ke padang rumput hijau dan air yang segar, demikian juga Yesus akan mengembalakan kehidupan setiap pribadi beriman kepada kelimpahan dan sukacita hidup. Dan sebagaimana gembala menjadi pintu bagi peristirahatan kawanan domba, Yesus pun akan menjadi naungan yang melindungi kehidupan kita.

Akulah Gembala Kehidupan
Yesus menyebutkan beberapa peran gembala. Antara lain; sebagai pribadi yang membukakan pintu bagi kawanan domba, sebagai pribadi yang suaranya didengarkan oleh kawanan domba, sebagai pribadi yang mampu menyebutkan satu-persatu nama dombanya, dan sebagai pribadi yang bertugas menuntun kawanan domba mencari makan.

Peran di atas menunjukkan gembala sebagai penuntun kehidupan. Ia berperan membimbing kawanan domba ke padang hijau melalui jalan yang aman dilewati. Karena itu gembala bertugas membuka jalan bagi kawanan dombanya. Dan persis dengan arti itulah Yesus pun berperan membimbing kehidupan umat beriman. Yesus adalah gembala kehidupan.

Dengan peran kegembalaan itu, Yesus menjamin hidup dan karya perutusan umat beriman. Dan seperti kawanan domba pula, umat beriman diharapkan berjalan pada jejak kaki yang telah dibuat oleh Yesus. Maka mengikuti Yesus bukan berarti mencontoh atau bahkan mengambil-alih peran Yesus, melainkan meniti jalan yang telah dibuka oleh Yesus yang telah berjalan di depan menuju padang rumput kehidupan.

Dalam terang pengembalaan itu, kita diajak pada Minggu panggilan ini untuk menjadi gembala-gembala kecil untuk kehidupan ini. Kita dipanggil dan diutus Tuhan yang bangkit untuk menjadi berkat bagi sesama lewat perbuatan dan kesaksian hidup yang baik. Peran kegembalaan itu dapat kita wujudkan melalui tindakan saling menyapa, menegur dan saling menolong.

Dengan sikap dan perbuatan kecil itu, tanpa disadari, kita sedang menunjukkan kepada sesama pribadi Yesus yang berjalan di depan kita. Karena itu kita memohon anugerah Tuhan agar boleh menjadi pribadi-pribadi baik yang dapat saling menolong. Dan sekaligus memohon agar Tuhan menambahkan jumlah gembala untuk berkarya dalam gereja. Yaitu panggilan untuk menjadi imam, burder, frater dan suster. Mereka adalah pribadi-pribadi yang diikutsertakan Tuhan menjadi gembala kehidupan.

Pada akhirnya, kita juga memohon agar lewat doa-doa kita, Tuhan sang Gembala Utama menemukan kawanan yang tertinggal dan belum mampu menemukan jalan kehidupan yang baik. Tujuannya agar Tuhan boleh mencari, menemukan dan menganugerahkan kelimpahan berkat untuk kehidupan mereka. Amin

Penulis : Yohanes Vianey Akoit, MSsCc

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments