Pada hari Minggu ini kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Pembaptisan Yesus di sungai Yordan menjadi pemakluman atas dimulainya tugas perutusan-Nya.
Dialah yang dinyatakan Nabi Yesaya sebagai utusan yang akan menegakkan hukum kepada bangsa-bangsa. Hukum seperti apa yang ingin ditegakkan-Nya, kita tidak tahu secara pasti? Namun, Nabi Yesaya melanjutkan dalam pemaklumannya, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia Ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya. (Yes 42:2-4)
Rasul Paulus memberi keterangan lebih lanjut akan karya kedatangan Sang Utusan tersebut. “Sesudah pembaptisan yang dilakukan Yohanes, Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasanya. Yesus itu telah berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” (Kis. 10:38)
Demikianlah pemakluman karya Yesus setelah pembaptisan. Pembaptisannya bukan untuk membersihkan-Nya, tapi sebagai partisipasi-Nya untuk memberi daya air yang membersihkan umat manusia di segala bangsa agar menjadi anak-anak Allah.
Berkat daya pembaptisan tersebut, kita tidak lagi hidup berdasarkan nafsu dan segala keinginan daging kita, tapi diberi daya untuk hidup sesuai kehendak Allah Bapa kita melalui pencurahan Roh Kudus. Maka marilah kita mensyukuri atas daya-daya baptisan yang kita miliki. Pertanyaan permenungan untuk kita:
Apakah aku sudah berusaha mengikuti daya dan rahmat pembaptisan yang aku miliki? Apakah aku sudah memenuhi janji baptis yang telah kunyatakan?
Rm. Ludowikus Andri Novian