Iman yang Memasyarakat Melalui Keterlibatan Mencegah Demam Berdarah dalam Gerakan 3R: Reduce, Reuse, dan Recycle

Iman merupakan tindakan dan sikap yang dapat dihayati dalam kehidupan sehari-hari (Červenková and Vizina 2021). Iman tidak
hanya terkurung di dalam doa dan tempat beribadah. Penghayatan iman dapat dilakukan melampaui batas sektor di berbagai bidang kehidupan (Yulius 2024).

Dalam konteks kesehatan masyarakat dan iman, setiap orang beriman diharapkan dapat terlibat menjaga kesehatan lingkungan bersama masyarakat sebagai medan penghayatan iman untuk melindungi sesama (Mrk 12:31) dan mewujudkan solidaritas Tubuh Kristus (1Kor 12:25–26). Nabi Yeremia 29:7 menegaskan, bahwa kesejahteraan kota adalah kesejahteraan kita bersama. Oleh karena ketika musim hujan tiba seperti sekarang ini, parit dan got-got yang kotor dapat menjadi sarang nyamuk penyebab demam berdarah (DBD).

Demam berdarah (DBD) menjadi tantangan masyarakat di kota Bekasi dan di bumi Cikarang. Penyakit yang disebabkan oleh nya- muk Aedes aegypti ini berkembang biak di lingkungan yang kotor dan banyak sampah. Sampah dari rumah tangga,warung makan dan restoran, cukup besar menyumbangkan polusi lingkungan seperti itu apabila tidak ditangani dengan baik. Data Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia per oktober tahun 2025 memperlihatkan bahwa di Indonesia terdapat lebih dari 131.000 kasus DBD dengan 500 kematian (Bdk. Media Indonesia, 2025). Kementerian kesehatan juga melaporkan bahwa kondisi pasca banjir berpotensi menyebabkan DBD, karena genangan air sisa banjir dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk penyebab DBD (Bdk. Kemenkes, 2025).

 

Oleh karena itu, adalah tanggung jawab iman umat katolik membawa kesadaran untuk semakin peduli pada kebersihan lingkungan. Dari sudut pandang iman, keterlibatan dalam pencegahan DBD di bumi Cikarang merupakan salah satu bagian dari panggilan moral sosial dan iman Gereja. Mengelola sampah dan melakukan fogging, membersihkan genangan air kotor bersama umat beriman lain dapat menjadi wujud nyata kasih terhadap sesama. Seperti ditegaskan oleh Santo Yakobus, iman tanpa perbuatan adalah mati. Tindakan menjaga kebersihan lingkungan adalah bentuk kasih terhadap sesama (Bdk. Mat 25:40), sekaligus mewujudkan tanggung jawab iman untuk merawat ciptaan (Bdk. Kej 2:15).

Keterlibatan iman melalui Gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) 

Gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) adalah strategi praktis yang sejalan dengan nilai iman, sehingga martabat manusia dan ajaran sosial Gereja menjadi sikap hidup sehari-hari (Hellwig 2004). Reduce berarti mengurangi sampah yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Reuse berarti menggunakan kembali barang-barang agar tidak menambah limbah baru. Recycle berarti mengubah kembali sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Ketiga langkah ini merupakan spiritualitas ekologis. Mazmur 104:30 mengatakan, “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.” Di sini kita bisa menghayati bahwa setiap tindakan mendaur ulang adalah partisipasi kecil dalam karya Roh Kudus yang membaharui bumi. Dengan melaksanakan 3R itu, kita ikut serta menjaga ciptaan Tuhan dari kerusakan. Iman selalu melahirkan tindakan bertanggung jawab ketika melihat persoalan dan tantangan masyarakat sekitar kita. Demikian 3R menjadi salah satu jalan iman yang konkret dalam mencegah DBD.

Mengurangi sampah (reduce) adalah langkah pertama yang sangat penting. Banyak wadah plastik sekali pakai dan dibuang begitu saja akhirnya menjadi tempat air tergenang. Air yang tertampung di wadah bekas seperti itu bisa menjadi sarang nyamuk
penyebab DBD. Dengan mengurangi penggunaan plastik, kita mengurangi risiko berkembang biaknya nyamuk. Demikian pula dengan membersihkan got, parit, dan tempat-tempat genangan air, tindakan itu membantu pencegahan potensi munculnya sarang nyamuk. Iman mengajarkan kita umat beriman untuk hidup sederhana dan tidak berlebihan. Kesederhanaan ini tercermin dalam kebiasaan mengurangi konsumsi barang yang tidak perlu. Reduce adalah wujud nyata iman yang mengajarkan tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan. 

Reuse atau penggunaan kembali barang merupakan bentuk kreativitas iman. Botol bekas bisa dijadikan pot tanaman. Kaleng bekas bisa diubah menjadi wadah penyimpanan, dan tidak dibuang sembarangan sehingga menjadi tempat genangan air dan sarang nyamuk. Dengan reuse, kita mengurangi jumlah sampah yang menumpuk. Iman mengajarkan kita untuk bijak menggunakan sumber daya yang ada. Penggunaan kembali barang juga akan melatih kita untuk bersyukur atas apa yang dimiliki. Reuse adalah tindakan iman yang mengubah potensi bahaya menjadi berkat.

Recycle atau mendaur ulang adalah langkah iman yang penuh harapan. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos untuk menyuburkan tanah. Sampah plastik bisa diolah menjadi bahan bangunan atau kerajinan. Dengan recycle, kita mengubah sampah menjadi sesuatu yang berguna. Iman mengajarkan bahwa tidak ada yang sia-sia dalam ciptaan Tuhan. Bahkan sampah pun bisa menjadi sumber kehidupan bila dikelola dengan bijak. Recycle adalah wujud tindakan semangat iman yang melihat peluang dalam keterbatasan.

DBD dan tantangan iman

DBD sebenarnya adalah masalah medis, yang bisa menjadi medan pengahayatan iman. membiarkan lingkungan kotor adalah menyalahi tanggung jawab iman. Nyamuk dapat berkembang biak karena kelalaian manusia dalam mengelola sampah dan lingkungan. Pencegahan dari DBD adalah salah satu bagian dari panggilan iman untuk menjaga kehidupan. Dengan 3R, kita menghayati iman yang bekerja melalui kasih. Pencegahan DBD menjadi bukti iman yang hidup dalam tindakan nyata. Lingkungan
bersih adalah tanda dari praksis iman yang bertanggung jawab. Nyamuk tidak akan berkembang biak jika tidak ada tempat air tergenang. Sampah yang dikelola dengan baik tidak akan menjadi sarang penyakit. Maka, iman mendorong kita untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. Kebersihan adalah bagian dari spiritualitas dan iman sehari-hari (Červenková and Vizina 2021). Dengan selalu menjaga kebersihan Gereja yang baru, kita umat beriman juga sedang merawat kenyamanan seluruh umat dalam melaksanakan perayaan iman dan beribadah. Lingkungan bersih adalah buah dari iman yang bekerja melalui tindakan dan kasih. Merawat bumi, seperti yang diperintahkan oleh kitab Kejadian 2:15, adalah wujud iman yang bertanggung jawab. Gerakan 3R mendidik kita beriman untuk hidup hemat dan bijak. Mengurangi sampah berarti mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Menggunakan kembali barang berarti menghemat sumber daya. Mendaur ulang berarti menciptakan nilai baru dari barang lama.

Semua ini sejalan dengan ajaran iman tentang kesederhanaan. Hidup hemat adalah bentuk syukur atas berkat Tuhan. Dengan 3R, kita belajar bahwa iman selalu mengajarkan keseimbangan hidup. Pencegahan DBD melalui 3R juga merupakan bentuk solidaritas iman. Ketika kita menjaga kebersihan, kita melindungi orang lain dari bahaya penyakit. Solidaritas ini adalah wujud kasih terhadap sesama. Iman mengajarkan kita untuk tidak egois, tetapi peduli pada orang lain. Dengan 3R, kita ikut menjaga kesehatan masyarakat. Solidaritas iman terlihat dalam tindakan kecil yang berdampak besar. Pencegahan DBD adalah bentuk nyata solidaritas iman. Iman juga mengajarkan kita untuk menghargai ciptaan Tuhan. Sampah yang dibiarkan menumpuk merusak keindahan ciptaan. Nyamuk yang berkembang biak mengganggu keseimbangan alam. Dengan 3R, kita ikut menjaga keindahan ciptaan Tuhan. Reduce, reuse, recycle adalah cara kita merawat bumi. Merawat bumi adalah bagian dari tanggung jawab iman. Dengan iman, kita melihat bumi sebagai rumah bersama yang harus dijaga.

Pencegahan DBD melalui 3R juga mendidik generasi muda. Anak-anak belajar sejak dini untuk mengelola sampah dengan baik. Mereka belajar bahwa kebersihan adalah bagian dari iman. Pendidikan iman tidak hanya di gereja, tetapi juga di rumah. Dengan 3R, anak-anak belajar nilai tanggung jawab. Generasi muda yang peduli lingkungan adalah harapan masa depan Gereja. Iman yang hidup selalu diwariskan melalui pendidikan yang nyata. Iman yang bertanggung jawab selalu melahirkan tindakan yang berkelanjutan. 3R bukan hanya kebiasaan sesaat, tetapi gaya hidup. Dengan 3R, kita membangun budaya baru yang peduli lingkungan. Budaya ini mencegah DBD secara berkelanjutan. Iman mengajarkan kita untuk konsisten dalam tindakan. Konsistensi ini terlihat dalam kebiasaan sehari-hari. 3R adalah gaya hidup iman yang berkelanjutan.

Pencegahan DBD melalui 3R juga mengajarkan kita tentang disiplin iman. Mengurangi sampah membutuhkan disiplin dalam konsumsi. Menggunakan kembali barang membutuhkan disiplin dalam kreativitas. Mendaur ulang membutuhkan disiplin dalam pengelolaan. Semua ini adalah latihan iman dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin iman membuat kita lebih bertanggung jawab. Dengan disiplin, kita mencegah DBD secara efektif. Iman juga mengajarkan kita untuk bersyukur atas kesehatan. Kesehatan adalah berkat yang harus dijaga. DBD 

mengingatkan kita bahwa kesehatan bisa hilang apabila kita lalai. Dengan 3R, kita menjaga kesehatan sebagai anugerah Tuhan. Syukur atas kesehatan terlihat dalam tindakan bagaimana kita menjaga kebersihan. Iman yang bersyukur selalu melahirkan tindakan nyata. Santo Paulus mengajak kita umat beriman untuk selalu bersyukur; Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (1 Tes 5:18). Pencegahan DBD adalah bentuk syukur atas kesehatan. Pencegahan DBD adalah tanggung jawab sosial iman dan keterlibatan iman dalam kehidupan masyarakat. Tanggung jawab sosial ini adalah bagian dari iman yang hidup, bagian dari ajaran sosial Gereja yang diimplementasikan secara nyata. Itulah salah satu model penghayatan iman yang masyarakat. Iman Ekologis yang bertanggung jawab Iman yang bertanggung jawab selalu melahirkan harapan.

Dengan 3R, kita berharap lingkungan menjadi lebih bersih. Dengan lingkungan bersih, kita berharap agar penyakit seperti DBD berkurang. Harapan seperti ini adalah buah iman yang bekerja melalui tindakan. Iman selalu melihat masa depan dengan optimisme. Optimisme ini terlihat dalam gerakan 3R. Pencegahan DBD adalah harapan iman yang nyata, dan kasih yang diimplementasikan. Tanggung jawab iman dalam mencegah DBD melalui 3R adalah panggilan universal. Reduce, reuse, recycle melampaui strategi teknis, menjadi penghayatan iman, spiritualitas yang ekologis. Keterlibatan umat dalam pencegahan DBD adalah bukti iman yang bertanggung jawab yang selalu melahirkan optimisme kehidupan. Di situlah umat beriman dengan penuh syukur berpartisipasi aktif untuk menjaga lingkungan, kehidupan dan masyarakat.

 

Referensi:
Červenková, Denisa, and Petr Vizina. 2021. “Faith Embodied in Attitudes: Ethics of Dialogue and Brotherhood of All People in the ‘Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together’ in Abu Dhabi and the Encyclical Fratelli Tutti.”
AUC THEOLOGICA 11(1):61–81. doi: 10.14712/23363398.2021.4. 

Hellwig, Monika K. 2004. “Catholic Social Teaching” edited by C.Handel and K. Shields. Journal of Catholic Social Thought 1(1):7–16. doi: 10.5840/jcathsoc2004112.

Yulius, Martinus Irwan. 2024. “Daily Spiritual Encounter Finding Way to Share Faith in New Evangelization.” International Journal of Indonesian Philosophy & Theology 5(1):45–55. doi: 10.47043/ijipth.v5i1.57.

Anastasia Bintari Kusumastuti
Tim Kontributor Kolom Katekese


Post Terkait

Comments